Cintai Habaib Karena Cintamu Pada Datuk Mereka

Ulama Syiah dalam foto di atas adalah Ayatullah Mirza Ahmad Sibaweh yang terkenal dengan penghormatan beliau kepada para Habaib. Apabila yang menelpon beliau adalah seorang Sayyid / Habib, maka beliau menerima telponnya dalam keadaan berdiri. Beliau bahkan tidak malu untuk mencium tangan anak-anak kecil Habaib.

Suatu perkara yang mustahil bagi beliau untuk tidak menghormati anak-anak Sayyid yang memasuki suatu Majelis, yang mana beliau ada di dalam Majelis tersebut. Bahkan bila di suatu Majelis ada 10 Habaib yang masuk secara tidak bersamaan, maka beliau mewajibkan dirinya untuk selalu berdiri bagi masing-masing mereka sebagai bentuk penghormatan.

Ketika ada yang mempertanyakan sikap beliau itu, maka beliau akan membacakan kepada mereka suatu Hadits terkenal dari jalur periwayatan Ahlul Bait, dimana Nabi saw bersabda : “Barangsiapa yang menghormati anak keturunanku (para Habaib), maka dia sama seperti menghormatiku. Dan siapa saja yang menghormati anak keturunanku, maka sampai akhir usianya mata dan telinganya akan tetap sehat.”

Beliau mengatakan, bahwa di usianya yang sudah 80 tahun, beliau masih bisa memasukkan jarum ke benang jahit yang kecil.

Penghormatan beliau kepada para Habaib sudah masyhur dan menjadi buah bibir di tengah masyarakat. Bahkan saat usia beliau sudah 90 tahun dan saat itu beliau sedang berada di atas Mimbar lalu datang seorang Sayyid yang masuk di Majelis itu, maka beliau langsung melakukan 3 hal :

  1. Membaca Shalawat.
  2. Berdiri dari duduknya.
  3. Beliau berusaha membuat hadirin di bawah Mimbar agar juga ikut berdiri, bahkan terkadang beliau turun dari Mimbar dan mendatangi Sayyid tersebut, untuk mencium tangannya dan menghormatinya.

Beliau wafat 10 tahun lalu dalam usia 90 tahun.

Setelah membaca kisah nyata di atas, mungkin sebagian pembaca ada yang bertanya-tanya : Bagaimana cara kita bersikap apabila menjumpai Habaib yang Zolim kepada kita atau kepada orang lain ? Apakah kepada Habaib seperti itu kita harus tetap mencintainya ?

Sahabat Baitul Muhibbin, terkait masalah mencintai, menyayangi dan menghormati Habaib, itu tidak ada tawar menawar lagi, yakni harus tetap kita lakukan. Namun kita juga jangan lupa bahwa ekspresi atau cara mencintai, menyayangi dan menghormati Habaib itu bisa bermacam-macam bentuknya, karena Rasulullah saw pernah bersabda :”Tolonglah saudaramu yang zolim dan saudaramu yang di zolimi.” Para Sahabat lantas bertanya : “Ya Rasulullah, kalau menolong saudara kami yang terzolimi, kami tahu caranya tapi bagaimana caranya kami menolong orang yang zolim ?” Rasulullah saw menjawab : “Cegah dia dari kezolimannya.”

{HR. Bukhari, Muslim & Tirmidzi}

Sehingga apabila kita membiarkan seorang Habib terus menerus kagum dengan kekeliruannya, tentulah itu bukan cara dan ekspresi yang benar untuk mencintai, menyayangi dan menghormatinya. Justru cara dan ekspresi yang benar untuk mencintai, menyayangi dan menghormatinya adalah seperti yang Rasulullah saw ajarkan, yakni cegah dia dari kezolimannya. Karena mencintai, menyayangi dan menghormati Habaib ataupun Ulama lainnya, bukan berarti harus membunuh semua daya kritis kita. Cinta yang di tuntut dari kita adalah cinta yang proporsional.

Imam Ali Ridho as memiliki seorang saudara kandung yang bernama Zaid, yang perilakunya tidak beliau senangi. Ketika Imam Ridho as sedang duduk di atas batu besar dan berbincang-bincang di Majelisnya, Zaid hadir di situ. Manakala Imam Ridho as sedang berbicara, beliau as menoleh kepada Zaid yang sedang bercerita kepada sebagian hadirin, berkali-kali Zaid membangga-banggakan nasabnya yang bersambung kepada Nabi Muhammad saw dengan mengatakan : “Kami (begini) dan kami (begitu).” Maka Imam Ridho as pun memotong pembicaraannya dan berkata kepada Zaid :

“Wahai Zaid, apakah perkataan penjual makanan Kufah telah memperdayamu ?! Sungguh Fathimah as telah menjaga kehormatannya, maka Allah Haramkan keturunannya dari Neraka. Demi Allah, tidak lain itu hanyalah untuk Al-Hasan as dan Al-Husain as serta anak keturunannya yang di khususkan (para Imam Ahlul Bait as). Adapun apabila Musa bin Ja’far (nama salah satu pengikut setia Imam Ali Ridho as) mena’ati Allah, berpuasa di siang hari dan Sholat di malam hari, sedangkan engkau (Zaid) berbuat Maksiat kepada-Nya, kemudian kalian berdua datang bersama-sama pada hari Kiamat, apakah dengan begitu engkau lebih mulia dari padanya di sisi Allah ?! Bukankah Ali bin Husain as (As-Sajjad) telah berkata bahwa siapapun yang berbuat baik di antara kita (Dzuriyyah / Keturunan Rasulullah saw) akan di beri Pahala namun siapapun yang berbuat keburukan di antara kita (Dzuriyyah / Keturunan Rasulullah saw), maka Dosanya akan di gandakan. Siapapun yang tidak mena’ati Allah di antara kita (Dzuriyyah / Keturunan Rasulullah saw), maka dia tidak termasuk dari Syi’ah kami. Dan apabila engkau (Zaid) mena’ati Allah, maka engkau termasuk Syi’ah kami.”

(Biharul Anwar jilid 10 halaman 65-66)

Namun begitu, pada kesempatan yang lain, Imam Ali Ridho as juga mengingatkan kita, beliau as berkata  : “Memandang keturunan kami adalah ibadah.” Beliau ditanya : “Wahai putera Rasulullah. Memandang para Imam dari kalian yang ibadah ataukah memandang semua keturunan Nabi saw itu yang ibadah ?” Imam Ali Ridho as menjawab : “Bahkan memandang semua keturunan Nabi saw adalah ibadah.”

(Amali, Syekh Shaduq 369-370; ‘Uyun Akhbar Al-Ridha 2/51; Biharul Anwar 96/218)

Oleh sebab itu, kalaupun kita terpaksa harus melakukan interupsi atas perbuatan seorang Habaib yang menurut kita sudah tergolong sebagai sebuah bentuk kezoliman, maka interupsi kita tetap harus di landasi dengan Mahabbah (Rasa Cinta Yang Kuat), sehingga kita tidak sampai mengganggu mereka secara Fisik. Kalaupun harus mengingatkan, cukup dengan Lisan atau Tulisan, JANGAN sampai kita menyakiti Jasad (Fisik) mereka yang mana darah Rasulullah saw dan Ahlul Bait as mengalir di dalamnya. Karena suatu ketika, seseorang pernah bertanya kepada Nabi saw : “Ya Rasulullah, kami sudah tahu Mahar Fathimah di Bumi. Lalu apa gerangan Maharnya di Langit ?” Nabi saw menjawab : “Bertanyalah hal yang bermanfaat bagimu dan tinggalkanlah hal yang tidak bermanfaat bagimu.” Orang itu berkata : “Ini bermanfaat bagi kami ya Rasulullah.” Rasulullah saw kemudian bersabda : “Mahar Fathimah di Langit adalah seperlima Bumi. Karenanya, siapapun yang berjalan di atas Bumi dalam keadaan membuat Fathimah murka atau membuat anak keturunannya (Dzurriyah / Habaib) murka, maka ia berjalan di atasnya secara Haram hingga hari Kiamat.”

{Al-Tajalliyat Al-Fathimiyyah, halaman 146, Faraid Al-Simthain jilid 1 halaman 95}

Dalam kesempatan yang lain, Rasulullah saw juga mengingatkan :

“Seorang hamba Allah tidaklah beriman sebelum ia mencintai diriku lebih dari dirinya, sebelum ia mencintai keturunanku lebih dari keturunannya, sebelum ia mencintai keluargaku lebih dari keluarganya dan sebelum ia mencintai zatku lebih dari zatnya”

{HR. Baihaqi & Dailami}

Akhirul Kalam, saya akhiri dengan sebuah riwayat dari Ummul Mu’minin Aisyah ra bahwa Rasulullah saw bersabda :

“Jibril berkata ; Aku telah membolak-balikkan dunia dari Timur sampai Barat, dan aku tidak mendapati orang yang lebih utama selain MUHAMMAD. Aku juga telah membolak-balikkan dunia dari Timur sampai Barat, namun aku tidak menemukan keturunan yang lebih utama selain BANI HASYIM.”

{HR. Ahmad}

Silahkan Share