Mengulas Kecerdasan Paripurna Sang Lisan Wahyu

Sebelum melakukan sesuatu, Rasulullah saw selalu membuat perencanaan matang. Perencanaan dan strategi matang inilah yang menjadi faktor kesuksesan langkah beliau saw. Berikut ini adalah sejumlah contoh dari strategi Rasulullah saw dan analisis atas strategi beliau :

 

  1. Saat Rasulullah saw mendapat informasi tentang konspirasi Musyrikin untuk membunuhnya, beliau saw lalu menyusun rencana untuk menggagalkan konspirasi itu dan berhijrah ke Madinah dengan selamat. Seperti kita tahu, beliau saw memerintahkan Imam Ali as untuk tidur di ranjang beliau. Tujuannya adalah agar para pengepung berpikir beliau saw masih ada dalam rumahnya. Setelah yakin Rasulullah saw akan selamat, Ali as menerima tugas ini dengan tulus. Dipilihnya Ali as untuk mengemban tugas maha penting ini juga bukan tanpa alasan. Rasulullah saw tahu persis kemampuan tempur sepupunya ini. Kalaupun nanti para pengepung menyadari Rasulullah saw telah lolos dan terjadi insiden, maka Ali as, dengan kemampuan tempurnya, akan mampu menahan para pendekar Quraisy itu dan memberi waktu kepada beliau saw untuk menjauh dari pengejaran.
  2. Jalan yang lazim digunakan untuk menuju Madinah adalah melalui jalur utara. Namun Rasulullah saw menggunakan jalur selatan. Dengan taktik ini, beliau mengacaukan pengejaran kaum Musyrikin serta memperoleh keunggulan waktu dan jarak atas mereka.
  3. Selama berada di gua Tsur, Rasulullah saw menyuruh seorang penggembala menggembalakan kambing di sekitar gua. Dengan demikian, selain mendapat pasokan susu dan makanan, jejak-jejak kaki kawanan kambing itu bisa menghapus jejak yang ditinggalkan Rasulullah saw.
  4. Rasulullah saw meminta pamannya, Abbas bin Abdul Muthalib, agar tetap tinggal di Makkah dan tidak ikut berhijrah ke Madinah. Dengan cara ini, beliau memiliki seorang informan di tengah sarang musuh. Melalui Abbas, juga beberapa informan lain, Rasulullah saw memperoleh berita tentang setiap langkah yang diambil kaum Quraisy.
  5. Dalam perang Ahzab, koalisi besar yang terdiri atas Quraisy dan sejumlah kabilah mengepung Madinah. Walau musuh tak mampu menembus parit yang dibuat Muslimin, kecuali sebagian kecil seperti Amr bin Abdi Wud, tapi pengepungan ini, yang berlangsung selama berminggu-minggu, mendatangkan kesusahan bagi warga Muslim Madinah. Rasulullah saw lalu menyusupkan Na’im bin Mas’ud ke tengah pasukan musuh. Rumor yang ditiupkan Na’im di tengah musuh menggoyahkan persatuan mereka. Satu sama lain mulai kehilangan kepercayaan. Strategi Rasulullah saw pun membuahkan hasil dan sukses membubarkan koalisi musuh.

Rasulullah saw tak hanya cerdik dalam mengatur strategi perang dan intelijen. Beliau saw pun piawai dalam menangani masalah-masalah sosial-politik dengan strateginya. Sejarah mencatat langkah-langkah beliau saw dalam mengatasi atau mengantisipasi masalah sosial-politik yang mungkin timbul. Berikut sejumlah contoh dari strategi Rasulullah saw terkait hal ini :

  • Sebelum Rasulullah saw diangkat sebagai Nabi, banjir besar melanda Makkah dan merusak bangunan Ka’bah. Warga Makkah pun bergotong royong merenovasi bangunan yang rusak. Usai renovasi, mereka berselisih soal siapa yang layak mengembalikan Hajar Aswad ke tempatnya. Menaruh Hajar Aswad ke tempatnya adalah sebuah hak istimewa hingga menjadi rebutan. Rasulullah saw lalu mengusulkan agar Hajar Aswad diletakkan di atas sehelai kain. Tiap kepala kabilah diminta untuk memegang tepi kain itu dan membawanya ke dekat tempat Hajar Aswad. Sesampainya di sana, Rasulullah saw sendiri yang mengambil Hajar Aswad dari kain dan menaruhnya di tempatnya. Semua puas dengan keputusan ini dan pertikaian pun batal terjadi.
  • Sebelum Rasulullah saw hijrah ke Yatsrib (Madinah), dua suku besar di sana, yaitu Aus dan Khazraj, selalu bertikai satu sama lain. Demi meredam segala potensi perselisihan antar suku, maka beliau menggagas Piagam Madinah. Piagam Madinah disebut-sebut sebagai “Undang-Undang Dasar tertulis pertama di dunia.” Salah satu butirnya adalah para penanda tangan piagam ini harus bersatu dan saling membantu.
  • Biasanya, kedatangan orang asing ke sebuah tempat berpotensi menimbulkan masalah. Kerap terjadi gesekan antara para pendatang dengan penduduk setempat. Terlebih jika latar belakang kebudayaan atau kesukuan mereka berbeda. Guna mengantisipasi hal ini, Rasulullah saw mempersaudarakan Muhajirin (para pendatang) dengan Anshor (penduduk asli Madinah). Efeknya sungguh luar biasa. Sejarah mencatat, kaum Anshor bahkan rela berbagi warisan dengan saudara mereka dari kalangan Muhajirin.

Demikianlah sejumlah contoh dari strategi dan perencanaan Rasulullah saw. Para Nabi memang adalah manusia-manusia pilihan Allah yang memiliki sejumlah keistimewaan dibanding manusia biasa. Salah satunya adalah mereka mampu melakukan Mukjizat. Mukjizat adalah sebuah perbuatan luar biasa (Khariqul ‘Adah) yang di tampilkan para Nabi guna membuktikan kebenaran klaim kenabian mereka.

Namun, walaupun mampu mengeluarkan Mukjizat, tak berarti para Nabi ‘mengobralnya’ begitu saja. Mereka tidak melakukan Mukjizat di sembarang tempat dan waktu. Bahkan, suatu kali, Nabi saw pernah menolak menunjukkan Mukjizat kepada orang Musyrik yang memintanya, sebab beliau saw tahu ia tak akan beriman walau telah menyaksikan Mukjizat. Oleh karena itu, kita melihat bahwa para Nabi as, khususnya Rasulullah saw, tetap mengandalkan cara-cara alami dan lazim untuk menangani masalah.

Bisa saja beliau saw menyelesaikan segalanya dengan Mukjizat, tapi beliau saw tidak melakukannya. Nabi saw hendak mengajari kita untuk selalu berpikir dan bertindak cerdas dalam menangani masalah. Inilah salah satu pelajaran berharga dari manusia nan agung ini kepada para pengikutnya.

Silahkan Share